Senin, 09 September 2013

Jadi Siapa yang Berkepentingan

Indonesia, negara demokrasi dimana masyarakatnya memiliki partisipasi yang tinggi untuk menentang dan memprotes keputusan pemerintah, terutama yang mereka bilang akan merugikan mereka. Walaupun sebenarnya sebagian besar masyarakat belum sepenuhya mengerti latar belakang mengapa pemerintah membuat keputusan tersebut. Mereka selalu berfikir pendek dan memprotes dengan dalil andalan mereka seperti; itu menyengsarakan rakyat, itu hanya menambah lahan korupsi, itu hanya untuk kepentingan partai politik, ini itu dan semuanya berbau negatif.

Aksi demonstrasipun muncul dimana - mana, berkuak - kuak berteriak membela rakyat. Dan anehnya banyak sekali yang simpati terhadap aksi demo tersebut. Apalagi Indonesia memiliki sepuluh televisi swasta besar yang menyiarkan aksi - aksi demo tersebut ( mungkin sebagian menambahkan sedikit bumbu - bumbu komersial ). Mengapa mereka menambahkan sedikit bumbu komersial kedalam acara mereka ? Mereka melakukan hal tersebut untuk menaikkan rating acara - acara mereka. Karena, jika berita yang disiarkan semakin seru, semakin banyak yang berdebat, makin banyak konflik dan pertentangan (masyarakat:pemerintah), maka akan semakin banyak yang mau menonton acara mereka dan otomatis rating acara mereka akan melejit naik.

Belakangan ini Indonesia dibuat ramai oleh perubahan yang dilakukan pemerintah, apalagi kalau bukan mengurangi subsidi BBM. Harga BBM yang semula Rp.4500 kini menjadi Rp.6000. Banyak sekali masyarakat yang merasa ketakutan. Takut harga bahan - bahan pokok naik, takut tarif angkutan umum naik, takut ini, takut itu, dan masih banyak lagi ketakutan yang mereka rasakan.
Inilah Indonesia sekarang yang memandang sebuah perubahan dengan sebelah mata, sehingga yang ada di benak kita hanyalah ketakutan ketakutan. Kalau ini terus dibiarkan terjadi, maka bangsa ini bisa dikatakan sebagai bangsa yang secara tidak langsung tidak mau keluar dari zona nyaman dan belum siap menyongsong perubahan.

Banyak sekali yang mengaku pro terhadap perubahan, didalam hati kecil mereka pasti ingin agar bangsa Indonesia berubah kearah yang lebih baik. Tapi, giliran ada sedikit perubahan saja, akal sehat mereka langsung hilang. Timbullah protes, demonstrasi, dan yang paling ramai yaitu langsung melontarkan fitnah terhadap pemerintah "ini hanya untuk kepentingan orang - orang tertentu" dan sekarang mari kita renungkan apa yang membuat mereka mau panas - panasan, teriak - teriak kalau bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Kita boleh mengatakan bahwa pemerintah itu egois, tapi lihatlah siapa yang lebih egois dari pemerintah ?. So It's Time to Change !.

Ingat tidak ada perubahan yang langsung bagus dan sempurna, semuanya pasti ada hambatan, tinggal bagaimana cara kita menyikapinya. Mau anarkis atau mau berprasangka baik dan kompak antara golongan paling bawah hingga ke atas, semua tergantung kita, tinggal pilih mana kira - kira yang baik.

Klik here : AGITRA SUGANDI

Selasa, 03 September 2013

Nol ( 0 )

Sepuluh tahun yang lalu seorang anak duduk dikelas sambil menatap sebuah buku. Buku yang disampulnya tertulis pelajaran bahasa indonesia itu terus dia perhatikan. Pandangannya tertuju pada satu halaman yang baru saja dinilai oleh ibu gurunya. dengan rasa sedih dan raut muka bingung seorang anak Sekolah Dasar. Entah apa yang ada didalam pikiran anak itu. Untuk pertama kalinya dia mendapat nilai "0" di sekolah. Tapi yang membuatnya bingung adalah mengapa dia mendapatkan nilai "0" itu, Mungkin jika pada waktu itu ia sudah bisa sedikit bahasa inggris ia akan bilang "Why i get this score?" Padahal soal yang ia kerjakan sudah benar. Mengapa saya katakan sudah benar ? Maka jawabannya adalah karena anak itu adalah saya.

Entah mengapa, peristiwa yang terjadi di tahun 2001 itu terus terekam didalam otak saya. Selama 11 tahun saya terus ingat dengan hal tersebut, bahkan saya masih ingat soal seperti apa yang saya kerjakan sehingga saya mendapat nilai 0 tersebut.
Soalnya kira - kira begini:


"Sebelah kiri adalah soal, dan yang kanan adalah jawaban saya"

Saya yakin anda sependapat dengan saya, mungkin anda akan bertanya bahkan mencari - cari dimana letak kesalahan pada jawaban yang saya tulis ketika saya berada di kelas satu SD tersebut. Mau anda seorang guru, pelajar, dosen, atau dibelakang nama anda sudah ada tulisan "Prof." dll saya yakin jika anda berada pada posisi guru tersebut anda akan memberikan saya nilai minimal 70. Tapi mengapa saya mendapat nilai tersebut ?. Sampai sekarang saya juga tidak tahu apa jawabannya.

Guru sebagai sesosok orang tua disekolah (ya inilah yang paling sering mereka katakan), Seharusnya memberi perhatian, kasih sayang, serta didikan layaknya orang tua ketika berada disekolah. Guru tidak seharusnya melakukan diskriminasi, pilih kasih, dan mencampur adukkan urusan pribadi kedalam urusan akademik siswa. Memang sedikit susah menemukan guru yang benar - benar profesional dalam mengajar ketika saya masih duduk dibangku sekolah dasar waktu itu. Begitulah keadaan dunia pendidikan di Sekolahku, maklum tempatnya berada disebuah desa yang terpencil. Dimana guru - gurunya memiliki banyak sanak family juga yang mereka ajar. But it's ok asal jangan ada diskriminasi.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, saya kerap menjadi sasaran diskriminasi dari oknum guru yang tidak mengutamakan keadilan dalam mengajar. Lama kelamaan saya terbiasa dengan hal tersebut, kadang saya merasa sangat sakit hati, kesal, ataupun dendam. Apalagi jika ada yang mengejek ibu saya. Saya tidak tau ada perselisihan apa yang terjadi antara guru tersebut dengan ibu saya. Dan ada satu guru yang tiap pagi selama beberapa minggu sengaja mampir kekelas saya hanya untuk melontarkan makian tiap jam tujuh pagi yang saya ingat kata - katanya "Ibunya Si A sudah gila" (mengejek ibu saya).
Saya tentu saja kesal dan melapor kepada ibu saya. Tiap hari telinga ini terasa amat panas. Tapi, sesuai amanah ibu saya agar tidak meladeni apalagi membalas makian dari guru tersebut. Akhirnya guru saya tersebut berhenti mengejek setelah kira - kira dua minggu saya diamkan.

Senin, 02 September 2013

Rahasia ( Sekolah )

Siapa yang tidak punya rahasia, mau kaya atau miskin, tua atau muda, semuanya pasti punya rahasia. Bahkan lembaga pendidikan yang akrab kita panggil dengan nama sekolah, juga punya rahasia. Apa saja yang menjadi rahasia sekolah ? Kali ini akan kita bahas.

Kebanyakan sekolah - sekolah yang bagus dan terkenal dimasyarakat, memiliki rahasia - rahasia. Terutama untuk menjaga nama baik serta popularitas sekolahnya. Ketika saya masuk SMA, saya sangat terkejut dan sedikit minder dengan teman - teman baru yang saya temui di SMA. Pasalnya, ketika kami disuruh untuk mengumpulkan photocopy ijazah SMP, saya lihat banyak teman - teman yang nilainya jauh diatas saya. Rata - rata nilai saya hanya sekitar 7,5 dan rata - rata nilai teman - teman saya berkisar antara 8,0 ke atas, bahkan ada yang mempunyai rata - rata nilai 9, padahal nilai 7,5 adalah nilai yang tertinggi di SMP saya dulu.

Setelah saya tanya ke salah satu teman saya yang berasal dari SMP XXX. Ternyata ketika ia mengikuti UN SMP, ia diberi bantuan (kunci jawaban) dari guru-guru mereka, begitu juga dengan teman-teman lainnya. Teman saya bahkan pernah berkata kepada saya "Yang malas-malas saja masih lulus get. Malah pas ujian mereka yang biasanya ngga ngerti pelajaran, terlihat sangat santai, nilainya juga bagus-bagus". Saya kira ini bukan rahasia lagi, karena pasti banyak dari kita yang sudah tau bahkan pernah diberi kunci jawaban yang tidak tahu didapat darimana itu.

Inilah realita dari kepura-puraan yang terjadi pada dunia pendidikan kita. Dunia yang menjadi syarat utama untuk mengeluarkan kita dari jerat kemiskinan. Dunia yang katanya dipenuhi dengan prestasi-prestasi yang membanggakan. Kalau bicara soal pendidikan, pasti yang terbayang didalam otak kita adalah generasi-generasi terpelajar yang kelak akan dipercaya untuk memajukan bangsa ini. Tapi, generasi-generasi sekarang tidak dilatih untuk mandiri, semua dibuat mudah bahkan berpikirpun tidak perlu, dan semua dibuat seolah tidak perlu menghadapi kesulitan. Akankah generasi-generasi yang "manja" ini bisa memimpin bangsa ini ?

Jadi siapa yang salah ?

TAKUT KEMBALI KE BAWAH

Yang berada di kasta bawah berjuang mati - matian untuk dapat merangkak selangkah demi selangkah ke atas. Ini yang terjadi dengan sekolah - sekolah reguler dan/atau terbelakang sekalipun. Tapi "penyakit" takut kembali kebawah umumnya di alami oleh sekolah - sekolah favorit. Sekolah - sekolah ini tugasnya lebih berat daripada sekolah - sekolah reguler. Karena banyak yang mengatakan bahwa, mempertahankan itu lebih susah daripada mendapatkan. Begitu juga dengan tingkat kepopuleran suatu lembaga pendidikan.

Sekolah - sekolah dengan rating yang tinggi sangat sarat dengan penyakit tidak mau kembali ke bawah ini. Tapi sekarang, penyakit ini juga telah merambat ke sekolah - sekolah yang tidak begitu populer. Yang dulu sekolahnya "sehat", kini mulai "meriang". Yang dulunya tidak main "kunci - kuncian" ketika mengikuti ujian, kini malah sebaliknya. Bahkan parahnya, Kepala Sekolah yang "bersih" dan tidak menggunakan hal tersebut sering disebut sebagai "kepala sekolah yang tidak berpengalaman". Padahal inilah sosok yang benar - benar dibutuhkan.

Terkait kebohongan, kita bisa mengambil pelajaran dari quote berikut ini :
"If you lie, you will cover a lie with another lie".

Senin, 19 Agustus 2013

Masa Sulit

Belakangan ini banyak sekali bermunculan tokoh - tokoh inspiratif yang kisah hidup dan perjuangan mereka dijadikan sebagai penimba semangat. Sebagian besar dari mereka yang menjadi tokoh inspiratif ini adalah mereka yang pada masa kecilnya mengalami masa - masa sulit yang didominasi masalah ekonomi. Beberapa diantaranya seperti Dahlan Iskan, Chairul Tanjung, atau Rhenald Kasali adalah orang - orang sukses yang banyak menginspirasi kita untuk tidak menyerah pada masa - masa sulit yang kita alami.

Kisah - kisah menarik dari mereka biasanya diawali dengan masa kecil sebagai orang miskin bertemu dengan masa - masa sulit, bangkit kemudian hingga menjadi orang yang sukses. Banyak sekali yang menulis tentang perjalanan hidup mereka, seolah - olah ingin menunjukkan bahwa kesulitan dalam perjalanan meraih kesuksesan hanya dialami oleh mereka yang dari kecil sudah hidup sebagai orang miskin dan serba kekurangan.

Sedangkan, perjuangan yang dialami oleh orang - orang yang berada dianggap mudah dan tidak mengalami kesulitan. Sehingga banyak yang menganggap kalau sudah menjadi kaya, maka semuanya akan mudah. Banyak yang terobsesi menjadi kaya dan menghalalkan segala cara. Bahkan yang sudah kayapun terus memperkaya dirinya dengan cara yang tidak sewajarnya. Contohnya Korupsi, Menipu, Mencuri, atau dengan ilmu hitam sekalipun.

Perlu disadari bahwa Tuhan itu maha adil. Jadi, mengapa sih masih ada yang berfikir kalau sudah kaya maka semuanya akan mudah ? Baik orang miskin atau kaya pasti mengalami masa sulit dalam hidupnya. Tapi yang membedakan adalah apa dan seperti apa yang dihadapi. Mungkin bagi golongan masyarakat menengah ke bawah masalah yang dihadapi didominasi oleh masalah ekonomi. Sedangkan golongan masyarakat atas tidak mengalami masalah yang sama, Tapi jangan berfikir bahwa mereka hidup dengan mudah dan kesuksesan itu adalah instan bagi mereka. Contohnya saja Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal dengan nama Ahok, yang mengalami diskriminasi pada masa kecilnya. Ini membuktikan bahwa tantangan dan kesulitan pasti dialami oleh semua orang.

Jadi berhentilah mengeluh dan mulailah berubah.

AGITRA SUGANDI

Berbagi Garam

Coba kita tanya kepada generasi muda sekarang. Yang saya maksud disini adalah remaja antara usia 15 sampai 25 tahun. Tanyalah pada mereka tentang apa yang mereka cita-citakan, dan mereka semua akan menjawab kalau mereka ingin sukses. Walaupun ada jawaban lain tapi maknanya akan tetap mengarah kesitu. Tapi, kebanyakan dari mereka sedang mengalami kebingungan tentang bagaimana cara meraih "sukses" tersebut.

Mereka membutuhkan pembimbing agar mereka tidak tersesat. Pembimbing-pembimbing disini tidak lain adalah para senior, baik itu guru, dosen, dan sebagainya. Tapi yang terjadi sekarang banyak para senior yang takut berbagi ilmu atau takut disaingi bahkan takut kalau sampai para junior mampu melampaui mereka, hingga terkesan menghalangi.

Generasi selanjutnya membutuhkan jasa yang tanpa pamrih dari generasi sebelumnya. mereka semua berharap agar para senior menjadi "jembatan" bagi mereka untuk menyebrangi danau yang luas, bukannya malah menjadi "buaya" yang ganas yang rela membunuh demi perut mereka.

Para remaja ibarat seorang yang sedang berusaha melewati tanjakan. Mungkin dia sering tergelincir dan membutuhkan "uluran tangan" dari para senior. Ada memang para senior yang mau dan tanpa pamrih membantunya menakhlukan tanjakan tersebut dengan cara berbagi ilmu pengetahuan, pengalaman, atau memberikan motivasi dan semangat. Tapi, selalu saja ada hal yang berlawanan. Jika ada yang berusaha membantu kita, maka pasti ada yang berusaha menjatuhkan kita.

Saya berpesan untuk para senior. Tolong ingatlah jasa orang-orang sebelum kalian yang telah mempercayakan ilmunya dan menjadikan kalian seperti sekarang ini. Guru-guru kalian tak pernah berharap kalau ilmu yang sudah mereka berikan akan berhenti pada kalian. Saya yakin mereka juga menginginkan agar ilmu mereka terus disalurkan dan menjadi amal jariyah yang akan terus bertambah. Berbagi ilmu tidak akan membuat ilmu kita berkurang, bahkan sebaliknya. Coba lihat air di lautan yang tidak pernah hilang asinnya atau menjadi tawar walaupun garam terus diproduksi oleh para petani garam.

AGITRA SUGANDI

Zaman Ngeksis

Di zaman yang serba connected sekarang ini, orang-orang berebut untuk menjadi terkenal, menunjukkan pada dunia bahwa dia ada. Bahkan ingin dianggap bahwa dia adalah orang hebat, disukai banyak orang, memiliki banyak penggemar, berprestasi, ingin dipuji, dan ingin menunjukkan bahwa ia lebih baik dari orang lain, semuanya bersifat duniawi dan semuanya hanya untuk kepuasan dirinya semata. Ketika hal itu tidak mampu diwujudkan, maka ia akan mencari alternatif lain untuk membuatnya merasa puas akan dirinya.

Social media memiliki pengaruh besar pada peradaban ini, dimana kita memiliki akses yang sangat luas. Kita bisa nge-tweet artis, pejabat, atau orang-orang terkenal lainnya, dan dapat balasan lagi. Interaksi yang begitu luas dan akses kepada siapa saja, baik yang kita kenal ataupun tidak, memungkinkan pengaruh yang datang kepada kita semakin banyak, pilihan pun semakin banyak, dan makin hari makin kompleks.

Jika kita bicara soal social media, yang kini banyak digunakan oleh generasi muda, walaupun bukan untuk berinteraksi dengan teman sebaya atau mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Tapi seperti yang saya katakan diawal tadi, orang-orang berebut untuk menjadi terkenal, atau paling tidak ingin dianggap terkenal walaupun sebenarnya belum mempunyai prestasi. Contoh kecilnya pada social media sepeti twitter, pernah teman saya mention ke twitter saya (@agetrasugandi) bahwa persaingan di dunia twitter sekarang adalah paling sedikit following, dan paling banyak followers.

Ketika seseorang yang biasa-biasa saja, sudah mem-follow banyak orang tapi followersnya tetap sedikit, karena ini adalah era-ngeksis, ia pasti tidak mau dianggap kurang populer. Ia melakukan segala cara agar ia terlihat cukup populer, dan jasa-jasa memperbanyak followers mulai bermunculan. Bukan hanya di twitter, pada social media lain seperti facebook juga bermunculan jasa-jasa menambah teman dan auto like misalnya.

Bahkan baru-baru ini muncul lagi jasa menaikkan viewers youtube, dan mungkin sudah banyak yang menggunakan jasa-jasa seperti itu. Entah apa tujuan sebenarnya dari semua itu, ini mungkin sebuah obsesi yang kuat untuk menjadi terkenal se-terkenal artis idolanya. Walaupun prestasi antara dia dan artis idolanya berbeda jauh.

Semua menginginkan kepopuleran, walaupun itu hanya sebuah kepupoleran yang bersifat semu. Tapi, inilah realita yang sedang terjadi ditengah-tengah masyarakat kita sekarang, terutama generasi muda.

AGITRA SUGANDI

Minggu, 18 Agustus 2013

Re-Launch


Hari ini masih dalam suasana kemerdekaan, genap 68 tahun sudah negeri ini merdeka. Tapi apa yang sudah kita berikan untuk negara ini, dan apa yang akan kita lakukan demi mengisi kemerdekaan. Mungkin sebagian berpendapat untuk mengisi kemerdekaan kita dapat melakukan tugas sesuai profesi dengan sebaik-baiknya.

Dan itulah yang coba saya lakukan, yaitu menulis. Mungkin jika 68 Tahun silam sudah ada blog dan Bapak Ir.Soekarno adalah seorang blogger, bisa jadi beliau akan sering posting pikiran-pikiran beliau dan berbagi pemikiran lewat media seperti ini. Karena itu saya coba tuangkan tumpukan pikiran dan unek-unek yang ada di dalam kepala saya, diolah dan diwujudkan dalam postingan-postingan yang akan meramaikan blog ini. Selamat Membaca

AGITRA SUGANDI MERDEKA !!!