Selasa, 03 September 2013

Nol ( 0 )

Sepuluh tahun yang lalu seorang anak duduk dikelas sambil menatap sebuah buku. Buku yang disampulnya tertulis pelajaran bahasa indonesia itu terus dia perhatikan. Pandangannya tertuju pada satu halaman yang baru saja dinilai oleh ibu gurunya. dengan rasa sedih dan raut muka bingung seorang anak Sekolah Dasar. Entah apa yang ada didalam pikiran anak itu. Untuk pertama kalinya dia mendapat nilai "0" di sekolah. Tapi yang membuatnya bingung adalah mengapa dia mendapatkan nilai "0" itu, Mungkin jika pada waktu itu ia sudah bisa sedikit bahasa inggris ia akan bilang "Why i get this score?" Padahal soal yang ia kerjakan sudah benar. Mengapa saya katakan sudah benar ? Maka jawabannya adalah karena anak itu adalah saya.

Entah mengapa, peristiwa yang terjadi di tahun 2001 itu terus terekam didalam otak saya. Selama 11 tahun saya terus ingat dengan hal tersebut, bahkan saya masih ingat soal seperti apa yang saya kerjakan sehingga saya mendapat nilai 0 tersebut.
Soalnya kira - kira begini:


"Sebelah kiri adalah soal, dan yang kanan adalah jawaban saya"

Saya yakin anda sependapat dengan saya, mungkin anda akan bertanya bahkan mencari - cari dimana letak kesalahan pada jawaban yang saya tulis ketika saya berada di kelas satu SD tersebut. Mau anda seorang guru, pelajar, dosen, atau dibelakang nama anda sudah ada tulisan "Prof." dll saya yakin jika anda berada pada posisi guru tersebut anda akan memberikan saya nilai minimal 70. Tapi mengapa saya mendapat nilai tersebut ?. Sampai sekarang saya juga tidak tahu apa jawabannya.

Guru sebagai sesosok orang tua disekolah (ya inilah yang paling sering mereka katakan), Seharusnya memberi perhatian, kasih sayang, serta didikan layaknya orang tua ketika berada disekolah. Guru tidak seharusnya melakukan diskriminasi, pilih kasih, dan mencampur adukkan urusan pribadi kedalam urusan akademik siswa. Memang sedikit susah menemukan guru yang benar - benar profesional dalam mengajar ketika saya masih duduk dibangku sekolah dasar waktu itu. Begitulah keadaan dunia pendidikan di Sekolahku, maklum tempatnya berada disebuah desa yang terpencil. Dimana guru - gurunya memiliki banyak sanak family juga yang mereka ajar. But it's ok asal jangan ada diskriminasi.

Tapi yang terjadi malah sebaliknya, saya kerap menjadi sasaran diskriminasi dari oknum guru yang tidak mengutamakan keadilan dalam mengajar. Lama kelamaan saya terbiasa dengan hal tersebut, kadang saya merasa sangat sakit hati, kesal, ataupun dendam. Apalagi jika ada yang mengejek ibu saya. Saya tidak tau ada perselisihan apa yang terjadi antara guru tersebut dengan ibu saya. Dan ada satu guru yang tiap pagi selama beberapa minggu sengaja mampir kekelas saya hanya untuk melontarkan makian tiap jam tujuh pagi yang saya ingat kata - katanya "Ibunya Si A sudah gila" (mengejek ibu saya).
Saya tentu saja kesal dan melapor kepada ibu saya. Tiap hari telinga ini terasa amat panas. Tapi, sesuai amanah ibu saya agar tidak meladeni apalagi membalas makian dari guru tersebut. Akhirnya guru saya tersebut berhenti mengejek setelah kira - kira dua minggu saya diamkan.
♥ CONSIDER SHARING THIS POST WITH YOUR FRIENDS IF YOU LIKE IT ♥
Facebook Twitter StumbleUpon Digg Delicious Reddit Technorati Mixx Linkedin
[Get this Widget]

0 komentar:

Posting Komentar

Berkomentarlah dengan bahasa yang baik, sopan, santun, dan tidak mengandung unsur SARA dan Pornografi. ---Admin---