Senin, 19 Agustus 2013

Masa Sulit

Belakangan ini banyak sekali bermunculan tokoh - tokoh inspiratif yang kisah hidup dan perjuangan mereka dijadikan sebagai penimba semangat. Sebagian besar dari mereka yang menjadi tokoh inspiratif ini adalah mereka yang pada masa kecilnya mengalami masa - masa sulit yang didominasi masalah ekonomi. Beberapa diantaranya seperti Dahlan Iskan, Chairul Tanjung, atau Rhenald Kasali adalah orang - orang sukses yang banyak menginspirasi kita untuk tidak menyerah pada masa - masa sulit yang kita alami.

Kisah - kisah menarik dari mereka biasanya diawali dengan masa kecil sebagai orang miskin bertemu dengan masa - masa sulit, bangkit kemudian hingga menjadi orang yang sukses. Banyak sekali yang menulis tentang perjalanan hidup mereka, seolah - olah ingin menunjukkan bahwa kesulitan dalam perjalanan meraih kesuksesan hanya dialami oleh mereka yang dari kecil sudah hidup sebagai orang miskin dan serba kekurangan.

Sedangkan, perjuangan yang dialami oleh orang - orang yang berada dianggap mudah dan tidak mengalami kesulitan. Sehingga banyak yang menganggap kalau sudah menjadi kaya, maka semuanya akan mudah. Banyak yang terobsesi menjadi kaya dan menghalalkan segala cara. Bahkan yang sudah kayapun terus memperkaya dirinya dengan cara yang tidak sewajarnya. Contohnya Korupsi, Menipu, Mencuri, atau dengan ilmu hitam sekalipun.

Perlu disadari bahwa Tuhan itu maha adil. Jadi, mengapa sih masih ada yang berfikir kalau sudah kaya maka semuanya akan mudah ? Baik orang miskin atau kaya pasti mengalami masa sulit dalam hidupnya. Tapi yang membedakan adalah apa dan seperti apa yang dihadapi. Mungkin bagi golongan masyarakat menengah ke bawah masalah yang dihadapi didominasi oleh masalah ekonomi. Sedangkan golongan masyarakat atas tidak mengalami masalah yang sama, Tapi jangan berfikir bahwa mereka hidup dengan mudah dan kesuksesan itu adalah instan bagi mereka. Contohnya saja Basuki Tjahaja Purnama atau lebih dikenal dengan nama Ahok, yang mengalami diskriminasi pada masa kecilnya. Ini membuktikan bahwa tantangan dan kesulitan pasti dialami oleh semua orang.

Jadi berhentilah mengeluh dan mulailah berubah.

AGITRA SUGANDI

Berbagi Garam

Coba kita tanya kepada generasi muda sekarang. Yang saya maksud disini adalah remaja antara usia 15 sampai 25 tahun. Tanyalah pada mereka tentang apa yang mereka cita-citakan, dan mereka semua akan menjawab kalau mereka ingin sukses. Walaupun ada jawaban lain tapi maknanya akan tetap mengarah kesitu. Tapi, kebanyakan dari mereka sedang mengalami kebingungan tentang bagaimana cara meraih "sukses" tersebut.

Mereka membutuhkan pembimbing agar mereka tidak tersesat. Pembimbing-pembimbing disini tidak lain adalah para senior, baik itu guru, dosen, dan sebagainya. Tapi yang terjadi sekarang banyak para senior yang takut berbagi ilmu atau takut disaingi bahkan takut kalau sampai para junior mampu melampaui mereka, hingga terkesan menghalangi.

Generasi selanjutnya membutuhkan jasa yang tanpa pamrih dari generasi sebelumnya. mereka semua berharap agar para senior menjadi "jembatan" bagi mereka untuk menyebrangi danau yang luas, bukannya malah menjadi "buaya" yang ganas yang rela membunuh demi perut mereka.

Para remaja ibarat seorang yang sedang berusaha melewati tanjakan. Mungkin dia sering tergelincir dan membutuhkan "uluran tangan" dari para senior. Ada memang para senior yang mau dan tanpa pamrih membantunya menakhlukan tanjakan tersebut dengan cara berbagi ilmu pengetahuan, pengalaman, atau memberikan motivasi dan semangat. Tapi, selalu saja ada hal yang berlawanan. Jika ada yang berusaha membantu kita, maka pasti ada yang berusaha menjatuhkan kita.

Saya berpesan untuk para senior. Tolong ingatlah jasa orang-orang sebelum kalian yang telah mempercayakan ilmunya dan menjadikan kalian seperti sekarang ini. Guru-guru kalian tak pernah berharap kalau ilmu yang sudah mereka berikan akan berhenti pada kalian. Saya yakin mereka juga menginginkan agar ilmu mereka terus disalurkan dan menjadi amal jariyah yang akan terus bertambah. Berbagi ilmu tidak akan membuat ilmu kita berkurang, bahkan sebaliknya. Coba lihat air di lautan yang tidak pernah hilang asinnya atau menjadi tawar walaupun garam terus diproduksi oleh para petani garam.

AGITRA SUGANDI

Zaman Ngeksis

Di zaman yang serba connected sekarang ini, orang-orang berebut untuk menjadi terkenal, menunjukkan pada dunia bahwa dia ada. Bahkan ingin dianggap bahwa dia adalah orang hebat, disukai banyak orang, memiliki banyak penggemar, berprestasi, ingin dipuji, dan ingin menunjukkan bahwa ia lebih baik dari orang lain, semuanya bersifat duniawi dan semuanya hanya untuk kepuasan dirinya semata. Ketika hal itu tidak mampu diwujudkan, maka ia akan mencari alternatif lain untuk membuatnya merasa puas akan dirinya.

Social media memiliki pengaruh besar pada peradaban ini, dimana kita memiliki akses yang sangat luas. Kita bisa nge-tweet artis, pejabat, atau orang-orang terkenal lainnya, dan dapat balasan lagi. Interaksi yang begitu luas dan akses kepada siapa saja, baik yang kita kenal ataupun tidak, memungkinkan pengaruh yang datang kepada kita semakin banyak, pilihan pun semakin banyak, dan makin hari makin kompleks.

Jika kita bicara soal social media, yang kini banyak digunakan oleh generasi muda, walaupun bukan untuk berinteraksi dengan teman sebaya atau mendapatkan informasi yang mereka butuhkan. Tapi seperti yang saya katakan diawal tadi, orang-orang berebut untuk menjadi terkenal, atau paling tidak ingin dianggap terkenal walaupun sebenarnya belum mempunyai prestasi. Contoh kecilnya pada social media sepeti twitter, pernah teman saya mention ke twitter saya (@agetrasugandi) bahwa persaingan di dunia twitter sekarang adalah paling sedikit following, dan paling banyak followers.

Ketika seseorang yang biasa-biasa saja, sudah mem-follow banyak orang tapi followersnya tetap sedikit, karena ini adalah era-ngeksis, ia pasti tidak mau dianggap kurang populer. Ia melakukan segala cara agar ia terlihat cukup populer, dan jasa-jasa memperbanyak followers mulai bermunculan. Bukan hanya di twitter, pada social media lain seperti facebook juga bermunculan jasa-jasa menambah teman dan auto like misalnya.

Bahkan baru-baru ini muncul lagi jasa menaikkan viewers youtube, dan mungkin sudah banyak yang menggunakan jasa-jasa seperti itu. Entah apa tujuan sebenarnya dari semua itu, ini mungkin sebuah obsesi yang kuat untuk menjadi terkenal se-terkenal artis idolanya. Walaupun prestasi antara dia dan artis idolanya berbeda jauh.

Semua menginginkan kepopuleran, walaupun itu hanya sebuah kepupoleran yang bersifat semu. Tapi, inilah realita yang sedang terjadi ditengah-tengah masyarakat kita sekarang, terutama generasi muda.

AGITRA SUGANDI

Minggu, 18 Agustus 2013

Re-Launch


Hari ini masih dalam suasana kemerdekaan, genap 68 tahun sudah negeri ini merdeka. Tapi apa yang sudah kita berikan untuk negara ini, dan apa yang akan kita lakukan demi mengisi kemerdekaan. Mungkin sebagian berpendapat untuk mengisi kemerdekaan kita dapat melakukan tugas sesuai profesi dengan sebaik-baiknya.

Dan itulah yang coba saya lakukan, yaitu menulis. Mungkin jika 68 Tahun silam sudah ada blog dan Bapak Ir.Soekarno adalah seorang blogger, bisa jadi beliau akan sering posting pikiran-pikiran beliau dan berbagi pemikiran lewat media seperti ini. Karena itu saya coba tuangkan tumpukan pikiran dan unek-unek yang ada di dalam kepala saya, diolah dan diwujudkan dalam postingan-postingan yang akan meramaikan blog ini. Selamat Membaca

AGITRA SUGANDI MERDEKA !!!